Permulaan



Setiap langkah yang membawamu kembali padaku, tidak 
pernah ku syukuri.
Semakin dekat jarakmu denganku semakin hilang ingatanku tentangmu,
Agar sedekat apapun dirimu, aku tak hilang pijakan dan terlalu tinggi memupuk harapan.
Tak pernah ada tempat untukku di matamu apalagi hatimu, jadi jangan berharap aku akan bersikap ramah dan baik-baik saja.
Kamu boleh saja berkata tentang basa-basi maaf dan penyesalan.
Aku akan tetap mendengarkan tetapi aku tak punya cukup ruang lagi untukmu.
Atau kamu boleh saja bernyanyi keras-keras tapi sunguh aku tuli mendadak jika itu suaramu.




Tropodo, Sidoarjo
16 oktober 2019 22.07

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kerudung Merah Kirmizi": Novel Sastra Indonesia karya Remy Sylado Tentang Stigma dan Gejolak Orde Baru

"Laut Bercerita": Harga yang Harus Dibayar untuk Menikmati Demokrasi

Lindap