Siapakah yang lebih bebal darimu?

Siapakah yang lebih bebal darimu?
Yang tahu makna kata “tunggu” berarti “tak ingin” tapi tetap menanti hingga ujung malam.

Siapakah yang lebih bebal darimu?
Yang tahu bahwa “sebentar” bisa berarti satu jam, dua jam bahkan tak pasti berapa lama, tetapi tetap saja membujuk hati percaya ini hanya satu, dua menit saja.

Siapakah yang lebih bebal darimu?
Yang tetap menunggu hati yang tak lagi terpaut padamu?

Lihatlah dirimu, berkali-kali memandang jarum jam yang terus bergerak menjauh.
Jangankan tubuhnya, bayangnya saja tak bisa kau rengkuh.
Hanya detak jam bertalu riuh di dadamu.

Siapakah yang lebih bebal darimu?
Katakanlah, adakah lagi yang jauh lebih bebal darimu?


Sidoarjo, 22 Desember 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kerudung Merah Kirmizi": Novel Sastra Indonesia karya Remy Sylado Tentang Stigma dan Gejolak Orde Baru

"Laut Bercerita": Harga yang Harus Dibayar untuk Menikmati Demokrasi

Lindap