Perindu dan penyiksa

tidak ada yang lebih kejam dari aniaya yang diperbuat oleh perindu terhadap dirinya sendiri.

memaksa badannya terjaga di tengah malam buta untuk menemani segala risau hati yang tak ada pangkal akhirnya,

kadang kala membuat matanya kering kerontang seperti waduk di musim kemarau, kering kerontang karena menangisi dirinya yang cilaka atau kekasihnya yang durhaka. 

duhhh..

betapa kacau akal pikirnya, menyiksa hati dan jiwanya sekaligus, membuat setiap sendi tubuhnya menanggung ngilu yang mencekat.

di malam-malam sunyi kepalanya gaduh bertanya tentang iya atau tidak, benar atau salah dan banyak hal yang hanya dia dan hatinya memahami

duuhhh .....

begitupun dia tetap saja sombong membusungkan dadanya yang keropos dan berkata jumawa bahwa dia tidak apa-apa.

sungguhpun tak ada yang sakit yang mendera, ku yakin sebenarnya dia setengah koma. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kerudung Merah Kirmizi": Novel Sastra Indonesia karya Remy Sylado Tentang Stigma dan Gejolak Orde Baru

"Laut Bercerita": Harga yang Harus Dibayar untuk Menikmati Demokrasi

Lindap