Pejuang dan Pemimpi

Ada banyak mimpi yang mungkin tidak terwujud, angan-angan yang tiba-tiba kehilangan gairah. Entah karena perasaan takut atau percaya bahwa itu semua mustahi diwujudkan.

Kadang, yang paling kejam meremehkan segala cita-cita adalah diri sendiri. Entah karena dirasa terlampau tinggi untuk digapai atau tidak ada cukup keberanian untuk tidak merasa rendah diri..

Tidak ada pejuang tangguh terlahir tanpa melewati peperangan yang hebat. Mungkin selama ini lebih banyak memilih lari bersembunyi, menonton orang lain bertarung mati-matian daripada harus melihat kenyataan kita bukan "Master IP" seperti yang selalu kita persepsikan.

Atau mungkin lebih banyak memilih jalur belakang, kiri, atau kanan saat pertempuran datang. Memilih banyak alasan diplomatis dan beralasan mempertahankan benteng dari ancaman.

Oh mungkin seperti orator yang pandai sekali menggerakkan tangan-tangan lugu untuk menuntaskan pertempuran sekaligus menitipkan angan-angan.

Tidak ada yang akan benar-benar bersedia menjadi peran pengganti dalam pertarungan kita, karenanya jangan melemahkan upaya dan doa. Jangan terus-terusan menjadi penonton yang bersorai bersuka cita tetapi dalam hati merasa jauh lebih layak dipuja, tetapi hanya duduk santai, sibuk berkomentar di luar arena.

Aaahh sudahlah, jangan dijawab cukup tanyakan saja pada diri ke manakah kaki ini sering melangkah. Tidak perlu berpayah membela diri, tidak ada yang lebih mengerti selain hati ini sendiri. Semoga masih ada jejak impian yang  menjadi petunjuk arah jika kaki bimbang kemana harus melangkah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kerudung Merah Kirmizi": Novel Sastra Indonesia karya Remy Sylado Tentang Stigma dan Gejolak Orde Baru

"Laut Bercerita": Harga yang Harus Dibayar untuk Menikmati Demokrasi

Lindap