Selain prasangka, apa lagi yang menjadi milik kita?

 

Apapun yang kudengar tentangmu seperti semilir angin yang sejuknya ingin sekali ku genggam tapi kutahu tak mungkin.

Entah angin yang menerpa anak rambutku atau sekedar menyentuh ujung wajah, semua selalu terasa menentramkan.

Bergerak sembunyi-sembunyi menerobos batas prakira dan realita.

Tak ada yang benar-benar kumiliki darimu selain prasangka,

apakah tatapanmu sama artinya dengan tatapanku?

Jika ada rentang masa kita berdua bersitatap sedikit lebih lama, akan kuberanikan diriku bertanya.

Tak peduli lagi jika jawabnya jauh sekali dari reka-reka semula.

Karena tak ada yang akan menyakiti selain syak hati yang tak terkendali.

Sampai  pada masanya tak ada lagi kata-kata yang bisa terucap meski rentetan kalimat bertumpuk di dada yang tercekat.

Walau tak banyak, semoga masih ada hangat yang melelehkan kecanggungan.

Atau kita terpaksa puas dengan obrolan yang hanya berisi hembusan nafas panjang dan beberapa senyum pura-pura.

Lebih dari itu skenario paling buruk adalah kita saling memalingkan muka bersandiwara seolah tak pernah ada tegur sapa.

Karena itu kita harus sepakat lebih awal agar tak ada yang berbalik memandang, sedang yang lain tak hirau hanya menampakkan punggung badan.

Jakarta, 3 April 2021

   22.46             

 

 

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kerudung Merah Kirmizi": Novel Sastra Indonesia karya Remy Sylado Tentang Stigma dan Gejolak Orde Baru

"Laut Bercerita": Harga yang Harus Dibayar untuk Menikmati Demokrasi

Lindap