Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
" Kau tidak tahu apa itu, karena ilmumu terbatas, pengetahuanmu terbatas. Kau hanya yakin, bila tidak di kehidupan ini, suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibandingkan menatap sepotong rembulan yang bersinar indah"
Disaat Ray merasa hidupnya sudah semakin sempurna selalu ada peristiwa di luar kendalinya yang membuatnya harus jatuh kembali ke titik awal. Naik turun kehidupan Ray begitu menguras emosi dan banyak kemalangan. Namun Ray bukanlah seorang yang cengeng, justru dia adalah seorang pendendam.
Dendam dengan siapa pun di luar sana yang mengambil nyawa kedua orang tuanya, membuatnya menjadi yatim piatu. Yang membuat sahabat baiknya, Diar mati terpanggang. Dan saat semua kesedihan itu perlahan memudar, kehidupan Ray menjadi semakin normal dan datanglah Si Gigi Kelinci yang menggenapi kebahagiaannya.

Waktu terus melaju dan seperti selalu masa bergilir satu dan lainnya. Si Gigi Kelinci meninggal dalam senyum setelah sesaat mendengar jawaban " apakah Ray ridho dengan semua kebersamaan mereka"
Sekali lagi hidup Ray menjerang kesedihan. Mengapa hidup ini selalu tidak adil untuknya? begitulah pertanyaan ini menjadi bibit dari segala pertanyaannya yang lain. Hingga di penghujung usia saat badannya yang renta terpasang berbagai alat kesehatan untuk menopang kehidupannya, semua peristiwa sejak dirinya kecil hingga menua tetap membayang di kelopak matanya.
"Mengapa Tuhan begitu kejam padaku?" pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya sepanjang hari sejak dia terbaring di rumah sakit ini. Pertanyaan Ray mendapatkan titik terang, tepat saat kota di guyur hujan lebat dan guntur menggelegar.
Seorang laki-laki tua berparas menyenangkan memasuki kamarnya berbarengan dengan cahaya kilat yang menyambar.
"Raih tanganku Ray, akan kutunjukkan semua jawaban atas pertanyaanmu".
Saat Ray meraih tangannya, kamar rumah sakit berpusing dan penggalan peristiwa-peristiwa dalam hidup Ray berkelindan mengitari mereka berdua. Menerobos waktu, Ray mendapatkan jawaban atas lima pertanyaan. Pertanyaan yang selalu membuat Ray gelisah sepanjang hidupnya.
Novel fiksi setebal 425 halaman, karya Tereliye bertema penjelajah waktu, menceritakan Ray, seorang anak panti asuhan yang tumbuh dengan tempaan hidup yang berat, membawa Ray beberapa kali hampir meregang nyawa. Terlibat dunia hitam yang sadis dan menapaki puncak kehidupan sebagai seorang pebisnis yang sukses dan terkenal.
Saat pertama kali buku ini diterbitkan saya mengira ini adalah novel romansa, menilik dari judulnya yang indah dan puitis. Namun, itu tak sepenuhnya benar hanya ada 4 bab dari total 37 bab yang bercerita tentang asmara.
Saya lebih suka menyebut ini novel religi walaupun tanpa ada penggalan ayat-ayat suci di dalamnya.
Seperti biasa, membaca karya Tereliye dengan genre seperti ini siapkanlah cukup tisu bagi yang gampang terharu seperti saya.
Bukan hanya karena kesedihan dan kemalangan yang menimpa Ray. Tetapi, relevansi dari pertanyaan Ray yang juga sering kita pertanyakan.
Sudah ada yang pernah membaca? boleh share yuk di kolom komentar.
Oh iya buku ini pun telah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2019, namun masih part 1 dan belum ada kejelasan kembali apakah ada sekuel selanjutnya.
Buku yang saya miliki ini adalah cetakan ke-18 yang saya beli pada tahun 2014. Sekilas menengok di toko buku, cover buku untuk cetakan yang terbaru sudah berubah. Pastikan #rekanbaca membeli yang asli ya bukan bajakan. Sampai ketemu di #bacaansixka selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar