"Kastalia" Kumpulan Puisi Minim Majas, Lugas dan Syarat Pesan Moral

https://www.instagram.com/p/CzQ-qbkPTWe/?utm_source=ig_web_copy_link&igshid=MzRlODBiNWFlZA==

Kastalia adalah kumpulan puisi karya Dodong Djiwapradja yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1997. Buku ini berisi 50 puisi yang ditulis Dodong dalam rentang tahun 1948-1973. Puisi-puisi dalam buku Kastalia merupakan catatan perjalanan hidup Dodong Djiwapradja, seorang penyair kelahiran Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.

Kastalia adalah sebuah kata yang memiliki beberapa arti, yaitu:

  • Dalam mitologi Yunani, Kastalia adalah seorang nimfa yang lari dari Apollon dan bunuh diri dengan terjun ke dalam sebuah mata air yang kemudian dinamai Kastalia. Mata air ini terletak di Delphi, Yunani, dan dianggap sebagai sumber air suci bagi para penyair.
  • Dalam bahasa Yunani, Kastalia berarti "bersih" atau "suci".

Dalam konteks kumpulan puisi karya Dodong Djiwapradja, Kastalia dapat diartikan sebagai sumber inspirasi bagi Dodong dalam menulis puisi. Puisi-puisi dalam buku Kastalia ditulis dengan gaya yang sederhana dan lugas. Namun, puisi-puisi ini tetap sarat akan makna dan pesan moral. Dodong Djiwapradja adalah seorang penyair yang peka terhadap keindahan dan keagungan alam. Puisi-puisi Dodong sering kali menggambarkan keindahan alam dan keagungan Tuhan. Selain itu, puisi-puisi Dodong juga kerap mengangkat tema-tema sosial dan politik.

Puisi-puisi ini menggambarkan berbagai macam pengalaman dan emosi yang dirasakan Dodong selama hidupnya, mulai dari masa kecilnya di kampung halaman, hingga masa dewasanya sebagai seorang penyair. Puisi-puisi ini dipisahkan dalam 4 bab ya, setiap bab membawa nuansa dan emosi yang berbeda-beda yaitu:

  1. Jalan Setapak (1948-1952) ang membawa kita pada kenangan masa bertumbuh di kampung halaman.
  2. Getah Malam (1953-1957) yang memberikan gambaran suasana politik pada saat dodong berusia 23-28 tahun
  3. Jari-Jemari (1958-1963) melalui pujian akan keindahan alam dan keagungan Tuhan, Dodong berusaha menetralisasi pergolakan antara Lekra dan Kaum Manifes Kebudayaan
  4. Penyair yang Lahir di Tanah Air (1964-1973) adalah penyempurnaan puisi yang dibuat sebelumnya, bernuansa kematangan berpikir dan kebijakan hati memilih kepada kebaikan.⁣
Dengan pengantar dari WS. Rendra buku ini jadi lebih hidup, krena Rendra secara gamblang mengisahkan perjalanan karir Dodong sebagai salah satu penyair Indonesia di masa itu. Buku puisi ini adalah #bacaansixka yang pertama kali saya baca waktu masih SMP selain kumpulan puisi Chairil Anwar yang waktu jadi bacaan wajib di pelajaran sekolah. ⁣⁣

Menggunakan pilihan kata yang lugas dan minim majas membuat puisi-puisi karya Dodong terasa sangat relevan dan mudah dimengerti. ⁣Karena itulah buku ini melekat dalam ingatan.⁣

Salah satu puisi yang sangat berkesan adalah puisi berjudul "Anak Kecil di Tengah Lautan⁣" (hal:117)

Kita tidak pernah belajar
bagaimana para nelayan berlayar.
Ketika ombak datang
didorongnya ke muka
perahu kecil yang terbuka

Kita pun tidak berani mengeringkan tubuh
di tengah lautan
menantang angin
mengelantang diri
di terik matahari

Ah betapa malunya!

Puisi "Anak Kecil di Tengah Lautan" karya Dodong Djiwapradja merupakan puisi yang sarat akan makna dan pesan moral. Mengungkapkan rasa malunya karena tidak pernah belajar berlayar seperti para nelayan. Para nelayan, meski dengan perahu kecil yang terbuka, berani menghadapi ombak dan tantangan lautan. Sebaliknya, penyair dan orang-orang seperti dirinya, tidak berani menghadapi tantangan hidup dan kenyataan yang ada.

Gambaran ketakutannya untuk menghadapi tantangan hidup. Ia takut untuk mengeringkan tubuh di tengah lautan, menantang angin, dan meregangkan diri di terik matahari. Ketakutan ini merupakan simbol dari ketakutan untuk menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan.

Puisi ini dapat dimaknai sebagai kritik terhadap sikap orang-orang yang takut menghadapi tantangan hidup. Sikap ini dapat menghambat kemajuan diri dan bangsa. Orang-orang yang takut menghadapi tantangan hidup akan selalu berada di belakang dan tidak akan pernah bisa mencapai kesuksesan. Namun puisi ini juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berani menghadapi tantangan hidup. Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan. Jika kita tidak berani menghadapi tantangan, kita akan selalu berada di tempat yang sama.

Namun, bagi saya puisi "Kastalia" adalah puisi yang yang begitu saya ingat hingga kini.

Kastalia

Kota
ialah tiang-tiang listrik
trem
becak

Unsur-unsur kehidupan
bumi fana
larut dalam kebalauan sukma

Debu ialah atom
inti penipuan
melekat pada bagian tubuh
paling bernafsu

Penyair
nabi
wali
adalah zat,
meleleh di atas aspal
hitam kumal

Pemimpin
ialah istana
Tentara,
senjata
Dan dari relung-relung mesum
datanglah pendeta

Kehidupan
ialah tanah liat
yang oleh tangan-tangan sakti
ditenung
jadi patung

Puisi ini adalah puisi bernunsa kritik politik sosial pertama yang saya suka dengan minimnya literasi saya waktu saya masih duduk di bangku SMP. Bagaimana Dodong menyindir dengan sangat lugas namun tidak terbantahkan tentang fakta-fakta bagaimana ajaran baik para nabi hanya dijadikan jalan untuk melanggengkan tindakan-tindakan yang kotor. Dodong juga mengkritisi tentang pemerintahan dan kita sendiri sebagai pelaku kehidupan yang kadang melalaikan fitrahnya dari Tuhan,
Versi cetak buku ini cukup susah ditemukan, namun versi digitalnya telah tersedia di aplikasi ipusnas. #rekanbaca yang tertarik, dapat membaca pada aplikasi tersebut secara gratis.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kerudung Merah Kirmizi": Novel Sastra Indonesia karya Remy Sylado Tentang Stigma dan Gejolak Orde Baru

"Laut Bercerita": Harga yang Harus Dibayar untuk Menikmati Demokrasi

Lindap