"Namaku Mata Hari", novel sinematis karya Remy Sylado


Merupakan novel bergenre Asmara dalam latar belakang sejarah perang dunia 1 dan bukan merupakan bacaan bebas semua umur, menurutku novel ini tidak pantas untuk pembaca dibawah 21 tahun. Novel ini menggali kehidupan Margaretha Geertruida Zelle, sebelum menjadi Mata Hari. Menceritakan dan mengeksplorasi pengalaman Mata Hari sebagai seorang wanita muda di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Berpindah-pindah dari Ambarawa, Semarang, Malang, Bandung serta Batavia sebelum akhirnya Mata Hari memutuskan untuk meneruskan kariernya sebagai penari di Eropa.⁣

Margarethe lahir pada tahun 1876 kemudian menikah dengan pria dengan umur yang dua kali lipat darinya, John Rudolph Mcleod pada tahun 1895. Seorang opsir kerajaan Belanda yang ditugaskan di Hindia Belanda. Margriet (panggilan dari ayahnya) mengikuti sang suami hijrah ke Hindia Belanda. 

Sejak kecil Margriet suka menari dan malah berfantasi suatu saat menjadi penari. Perpindahannya dari Belanda ke Hindia Belanda memperkenalkan Margriet dengan kesenian tari jawa. Berawal dari menonton, kemudian memahami filosofinya rupanya hal ini menarik perhatiannya. Belajar menari adalah pelampiasan dari kesulitannya menghadapi problem rumah tangga dan selisih paham dengan suaminya yang menurut Margriet sangat konservatif. 

Tidak seperti wanita Belanda pada umumnya masa itu yang sangat menjunjung tinggi ketabuan terutama dalam perihal seksualitas. Margriet sangat terbuka dan melampau pemikiran vulgar wanita pada zaman itu. Jika wanita belanda lain menganggap bermain gila harus ditutupi dan hanya layak dilakukan oleh pria, Margriet berpikir sebaliknya. 

Hingga pada akhirnya menari menjadi pilihan hidupnya sekaligus melarikan diri dari suaminya. Margriet kemudian mempunyai nama panggung Mata Hari. Mata Hari memulai belajar menari dengan mempelajari tari Jawa yang lemah gemulai dan syarat nuansa magis kemudian berpikir untuk menunjukkan kesenian tersebut dengan caranya seperti pertunjukan tarian Mesir yang lebih berani.⁣

Sekaligus dengan pertunjukan tari yang ditampilkan oleh Mata Hari mengukuhkannya juga sebagai pelacur kelas atas yang hanya bisa dicapai oleh pejabat, pengusaha kaya raya atau politikus yang menggunakan jasanya untuk mengorek informasi dari lawan politiknya

Melalui pertunjukan tarian Mata Hari akhirnya tiba di Paris dan kota-kota lainnya hingga pada suatu masa terlibat menjadi bagian dari intelijen sebagai seorang mata-mata. Dan berakhir dieksekusi tembak mati oleh pemerintah Prancis karena dianggap bersalah sebagai agen ganda Prancis dan Jerman.⁣

Gaya Remy Silado yang selalu tegas menggunakan kosa kata yang jujur dan unik membuat Mata Hari seperti gadis-gadis film James Bond yang pernah saya tonton. Lembut dan cantik namun juga licik dan pandai bersandiwara.

Buku ini diperkaya dengan informasi sejarah menarik dan referensi seni dan budaya. Remy memasukkan istilah-istilah asing yang dijelaskan melalui catatan kaki, sehingga cerita dapat dipahami dengan konteks yang lebih akurat.
Novel ini diterbitkan pada Oktober 2010 oleh Gramedia Pustaka, Sudah ada yang pernah baca novel ini? Jangan Beli Bajakan!!.. versi digitalnya juga sudah ada di ipusnas.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Kerudung Merah Kirmizi": Novel Sastra Indonesia karya Remy Sylado Tentang Stigma dan Gejolak Orde Baru

"Laut Bercerita": Harga yang Harus Dibayar untuk Menikmati Demokrasi

Lindap